Rindulah yang membawanya pulang untuk bersua, bersua dengan
wanita yang mengakibatkan ia angkat kaki
dari rumah.
“Masih sayangkah kau
denganku?” tanya si wanita ketika si lelaki telah berada dirumah.
Ia hanya diam dan
berlalu kesudut ruangan tempat anaknya
diikat dan diperlakukan layaknya seekor binatang.
“Sakitkah nak?” Tanya
nya pada anak kecil yang terkulai lemas
di sudut ruangan itu.
“Buat apa kau
menanyakan hal yang sama kali dia tak
mengerti?” timbal si wanita tadi.
“Sudahlah jangan banyak
bicara ini semua salahmu! Kenapa kau buat dia terkekang?! Ibu macam apa kau?!”
buliran air mata mulai tumpah dari matanya, tangannya mulai membuka ikatan pada
kaki si anak, dia mencoba untuk mendekap, tapi anaknya merasa takut seakan-akan
dirinya hendak diterkam oleh malaikat
maut dengan gelar ayah bagi kehidupannya.
“Kenapa kau lepas
ikatannya? Cepat pasang kembali!” ujar si wanita sembari memperkuat ikatan pada
kaki si anak.
“Ada apa dengan
Pikiranmu Lastri! Tak sadarkah kau ini anakmu! Kenapa kau perlakukan dia
seperti itu?! Lepaskan! Cepat lepaskan! Atau kubunuh kau!” ancam si lelaki
sembari memegang tangan si wanita.
“Lepaskan aku! Sadarkah
kau siapa yang salah?!” ucap si wanita, kali ini ia tak melawan, kakinya
bergetar, ia lemah, tangisnya mulai terdengar
, kepalanya tertunduk sangat dalam.
“Aku tak sanggup melawan semua perlawananmu, akupun tak sanggup mengurusi anak yang cacat seperti itu, aku lelah. Sadarkah kau? Bertahun-tahun aku harus berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencari makan, untuk siapa? Untuk anak itu! Kenapa kau tak kembali kemari? Kau menaruh dendam padaku karna aku telah mengusirmu tiga tahun lalu? Jawab! Kenapa kau diam? Kau tau apa alasan kenapa aku mengusirmu? Tolong dengarkan… hiks.. hiks..” wanita itu terlihat agak tenang setelah si lelaki melepaskan pegangannya.
“Aku tak sanggup melawan semua perlawananmu, akupun tak sanggup mengurusi anak yang cacat seperti itu, aku lelah. Sadarkah kau? Bertahun-tahun aku harus berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencari makan, untuk siapa? Untuk anak itu! Kenapa kau tak kembali kemari? Kau menaruh dendam padaku karna aku telah mengusirmu tiga tahun lalu? Jawab! Kenapa kau diam? Kau tau apa alasan kenapa aku mengusirmu? Tolong dengarkan… hiks.. hiks..” wanita itu terlihat agak tenang setelah si lelaki melepaskan pegangannya.
“Sadarkah kau ada
wanita yang selalu setia menunggumu
pulang kerumah? Apakah kau tau hatiku sakit saat ku tahu bahwa kau
mempunyai istri lagi tanpa
sepengetahuanku? Aku bukan wanita perkasa, akupun tak mempunyai hati yang kuat,
terkelupas sedikit saja aku sudah mengerang.” Tangisannya kembali memuncak dia
terduduk lemas di bawah kaki si lelaki yang bergelar suaminya itu.
“Lastriii…” si lelaki mulai mengangkat dan memeluknya.
“Lastriii…” si lelaki mulai mengangkat dan memeluknya.
“ maafkan aku Lastrii.”
Pelukannya semakin erat seakan tak mau melepaskan si wanita.
“Aku lelah Mas.. Aku pernah melepaskan ikatan kaki Joni, tapi hanya beberapa menit aku tinggalkan untuk kebelakang dia menghilang. Aku mencari-cari dengan warga sini, dan ternyata dia berada di kampung seberang, dia menghancurkan peralatan salah satu rumah warga, dan aku harus menanggung kerugian 200 ribu, maafkan aku karna telah menjual cincin pernikahan kita” dia menangadah pada si lelaki sambil meminta ampun.
“Aku lelah Mas.. Aku pernah melepaskan ikatan kaki Joni, tapi hanya beberapa menit aku tinggalkan untuk kebelakang dia menghilang. Aku mencari-cari dengan warga sini, dan ternyata dia berada di kampung seberang, dia menghancurkan peralatan salah satu rumah warga, dan aku harus menanggung kerugian 200 ribu, maafkan aku karna telah menjual cincin pernikahan kita” dia menangadah pada si lelaki sambil meminta ampun.
“Maafkan aku Mas…”
tangisnya kembali terdengar.
Si lelaki yang sedari
tadi memeluknya makin memperkuat pelukannya, tak lupa anak kecil yang sedari
tadi melihat ibu dan ayah saling murka. Mulai mendekat.
“Mari sini nak,
dekat Ayah” ucapnya.
-KARMELI