Jumat, 12 April 2013

Sepatu lebaran nanti


Semua ibu itu penyayang! Tak terkecuali. Walaupun profesi, tingkah polah, cara berpakaiannya-pun ada yang tak pantas dibilang sebagai seorang ibu tapi teteeeep ibu tak akan mau merusak kebahagiaan anaknya!

***

Ini kisah nyata saya. Sewaktu bulan puasa tahun 2011 kegiatan saya selepas pulang sekolah atau masa liburan itu berada di toko. Saat itu ibu saya puya toko sandal-sepatu dikawasan pasar Pandeglang, dan saya sering membantu ibu untuk menjaga toko. Karna memang pada saat bulan puasa apalagi malam takbiran buanyaaaak sekali pengunjung yang datang baik untuk hanya sekedar melihat-lihat atau membeli.

Pada jam setelah maghrib, ramai sekali orang yang berkunjung ke toko saya. Saya yang sedang menghabiskan jatah makan buka puasa saya tertarik untuk melihatseorang ibu yang sedang berdebat dengan anaknya tentang pilihan sandal yang sedang di pegang si anak saya tafsir umur si anak 7 atau 8 tahunan saya mendekati mereka. Dandanan ibu itu sedikit “menor”, memakai jaket berbahan jins, rambut berwarna merah yang dikuncir satu kebelakang, pakai sepatu bakiak ber-hak, dan memakai dandanan  agak berlebihan.

Setelah lama saya mendengar perdebatan ibu dan anak tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa si ibu itu tak suka dengan pilihan sandal si anak, pasalnya si anak menginginkan sandal teplek  yang mempunyai tali kebelakang.

“itu gak jaman neng, luh mau di ejek-ejek sama temen luh!” ujar si ibu. Si anak hanya diam, sepertinya dia tak tertarik dengan pilihan si ibu. Si ibu menanyakan harga sepatu yang dipilihnya, sepatu itu  sedikit ber-hak . Saya terkekeh, masak iya bu mau beliin anak seumuran itu sepatu yang beginian, batin saya.

“Dua puluh lima bu.” Ibu itu tercekat mendengar harga yang saya sebutkan lalu dia menanyakan lagi harga sepatu yang dipilih anaknya tadi “kalau yang ini?” Tanya nya sambil memperlihatkan sepatu yang dipilih anaknya tadi.

“yang itu lima puluh. Bawahannya tebel bu, ga mudah rusak. Gak licin juga”, saya menjelaskan.

Si ibu tampak mengimbang-ngimbang sepatu mana yang akan dia belikan untuk anaknya berlebaran nanti.

“hayang nu mana neng?” Tanya si ibu yang berarti mau yang mana neng. Si anak masih kekeuh sama pilihannya.

“nu ieu, Mak.” Jawab si anak yang berarti yang ini, Mak.

Si ibu mengalah dan mau membelikan sepatu yang di kehendaki sang anak, tanpa proses tawar menawar si ibu memberi uang 50ribu kepada saya. Terlihat di mimik muka si ibu ada perasaan sedikit kecewa karna dia menghendaki anaknya berlebaran nanti mengenakan sepatu berhak yang sedang banyak digandrungi oleh sebagian anak kecil.

Tapi saya sangat bangga pada si ibu, karna merelakan uangnya menghilang lima puluh ribu untuk membeli sepatu yang diinginkan si anak. Kalau saja si ibu tetap kekeuh dengan pilihannya mungkin uangnya hanya hilang dua puluh lima ribu. Dan saya kira ibu dengan berpenampilan itu akan bersikap kasar dan tak mau kalah tentang pilihan memilih sepatu. Tapi saya salah, ibu berpenampilan seperti itupun sangat sayang pada anaknya, dan tak mau merusak keiinginan sang anak.

Memang bener apa kata orang “jangan menilai orang dari covernya”.

 

 

Salam, Karmeli ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar