Semua ibu
itu penyayang! Tak terkecuali. Walaupun profesi, tingkah polah, cara
berpakaiannya-pun ada yang tak pantas dibilang sebagai seorang ibu tapi teteeeep
ibu tak akan mau merusak kebahagiaan anaknya!
***
Ini kisah
nyata saya. Sewaktu bulan puasa tahun 2011 kegiatan saya selepas pulang sekolah
atau masa liburan itu berada di toko. Saat itu ibu saya puya toko sandal-sepatu
dikawasan pasar Pandeglang, dan saya sering membantu ibu untuk menjaga toko.
Karna memang pada saat bulan puasa apalagi malam takbiran buanyaaaak sekali
pengunjung yang datang baik untuk hanya sekedar melihat-lihat atau membeli.
Pada jam
setelah maghrib, ramai sekali orang yang berkunjung ke toko saya. Saya yang
sedang menghabiskan jatah makan buka puasa saya tertarik untuk melihatseorang ibu
yang sedang berdebat dengan anaknya tentang pilihan sandal yang sedang di
pegang si anak saya tafsir umur si anak 7 atau 8 tahunan saya mendekati mereka.
Dandanan ibu itu sedikit “menor”,
memakai jaket berbahan jins, rambut berwarna merah yang dikuncir satu
kebelakang, pakai sepatu bakiak ber-hak, dan memakai dandanan agak berlebihan.
Setelah lama
saya mendengar perdebatan ibu dan anak tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa
si ibu itu tak suka dengan pilihan sandal si anak, pasalnya si anak menginginkan
sandal teplek yang mempunyai tali kebelakang.
“itu gak
jaman neng, luh mau di ejek-ejek sama temen luh!” ujar si ibu. Si anak hanya
diam, sepertinya dia tak tertarik dengan pilihan si ibu. Si ibu menanyakan
harga sepatu yang dipilihnya, sepatu itu
sedikit ber-hak . Saya terkekeh, masak iya bu mau beliin anak seumuran
itu sepatu yang beginian, batin saya.
“Dua puluh
lima bu.” Ibu itu tercekat mendengar harga yang saya sebutkan lalu dia
menanyakan lagi harga sepatu yang dipilih anaknya tadi “kalau yang ini?” Tanya
nya sambil memperlihatkan sepatu yang dipilih anaknya tadi.
“yang itu
lima puluh. Bawahannya tebel bu, ga mudah rusak. Gak licin juga”, saya
menjelaskan.
Si ibu
tampak mengimbang-ngimbang sepatu mana yang akan dia belikan untuk anaknya
berlebaran nanti.
“hayang nu
mana neng?” Tanya si ibu yang berarti mau
yang mana neng. Si anak masih kekeuh sama pilihannya.
“nu ieu,
Mak.” Jawab si anak yang berarti yang
ini, Mak.
Si ibu
mengalah dan mau membelikan sepatu yang di kehendaki sang anak, tanpa proses
tawar menawar si ibu memberi uang 50ribu kepada saya. Terlihat di mimik muka si
ibu ada perasaan sedikit kecewa karna dia menghendaki anaknya berlebaran nanti
mengenakan sepatu berhak yang sedang banyak digandrungi oleh sebagian anak
kecil.
Tapi saya
sangat bangga pada si ibu, karna merelakan uangnya menghilang lima puluh ribu
untuk membeli sepatu yang diinginkan si anak. Kalau saja si ibu tetap kekeuh dengan pilihannya mungkin uangnya
hanya hilang dua puluh lima ribu. Dan saya kira ibu dengan berpenampilan itu
akan bersikap kasar dan tak mau kalah tentang
pilihan memilih sepatu. Tapi saya salah, ibu berpenampilan seperti itupun
sangat sayang pada anaknya, dan tak mau merusak keiinginan sang anak.
Memang bener
apa kata orang “jangan menilai orang dari
covernya”.
Salam,
Karmeli ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar