Minggu, 14 April 2013

Maaf (Cerpen)


Rindulah yang  membawanya pulang untuk bersua, bersua dengan wanita  yang mengakibatkan ia angkat kaki dari rumah.

“Masih sayangkah kau denganku?” tanya si wanita ketika si lelaki  telah berada dirumah.

Ia hanya diam dan berlalu kesudut ruangan  tempat anaknya diikat dan diperlakukan layaknya seekor binatang.

“Sakitkah nak?” Tanya nya pada anak kecil yang  terkulai lemas di sudut ruangan itu.

“Buat apa kau menanyakan hal yang  sama kali dia tak mengerti?” timbal si wanita tadi.

“Sudahlah jangan banyak bicara ini semua salahmu! Kenapa kau buat dia terkekang?! Ibu macam apa kau?!” buliran air mata mulai tumpah dari matanya, tangannya mulai membuka ikatan pada kaki si anak, dia mencoba untuk mendekap, tapi anaknya merasa takut seakan-akan dirinya hendak  diterkam oleh malaikat maut dengan gelar ayah bagi kehidupannya.

“Kenapa kau lepas ikatannya? Cepat pasang kembali!” ujar si wanita sembari memperkuat ikatan pada kaki si anak.

“Ada apa dengan Pikiranmu Lastri! Tak sadarkah kau ini anakmu! Kenapa kau perlakukan dia seperti itu?! Lepaskan! Cepat lepaskan! Atau kubunuh kau!” ancam si lelaki sembari memegang tangan si wanita.

“Lepaskan aku! Sadarkah kau siapa yang salah?!” ucap si wanita, kali ini ia tak melawan, kakinya bergetar,  ia lemah, tangisnya mulai terdengar , kepalanya tertunduk sangat dalam.
“Aku tak sanggup melawan semua perlawananmu, akupun tak sanggup mengurusi anak yang cacat seperti  itu, aku lelah. Sadarkah kau? Bertahun-tahun aku harus berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencari makan, untuk siapa? Untuk anak itu! Kenapa kau tak kembali kemari? Kau menaruh dendam padaku karna aku telah mengusirmu tiga tahun lalu? Jawab!  Kenapa kau diam? Kau tau apa alasan kenapa aku mengusirmu? Tolong dengarkan… hiks.. hiks..” wanita itu terlihat agak tenang setelah si lelaki melepaskan pegangannya.

“Sadarkah kau ada wanita yang selalu setia menunggumu  pulang kerumah? Apakah kau tau hatiku sakit saat ku tahu bahwa kau mempunyai  istri lagi tanpa sepengetahuanku? Aku bukan wanita perkasa, akupun tak mempunyai hati yang kuat, terkelupas sedikit saja aku sudah mengerang.” Tangisannya kembali memuncak dia terduduk lemas di bawah kaki si lelaki yang bergelar suaminya itu.
“Lastriii…” si lelaki mulai mengangkat dan memeluknya.

“ maafkan aku Lastrii.” Pelukannya semakin erat seakan tak mau melepaskan si wanita.
“Aku lelah Mas.. Aku pernah melepaskan ikatan kaki Joni, tapi hanya beberapa menit aku tinggalkan untuk kebelakang dia menghilang. Aku mencari-cari dengan warga sini, dan ternyata dia berada di kampung seberang, dia menghancurkan peralatan salah satu rumah  warga, dan aku harus menanggung kerugian 200 ribu, maafkan aku karna telah menjual cincin pernikahan kita” dia menangadah pada si lelaki sambil meminta ampun.

“Maafkan aku Mas…” tangisnya kembali terdengar.

Si lelaki yang sedari tadi memeluknya makin memperkuat pelukannya, tak lupa anak kecil yang sedari tadi melihat ibu dan ayah saling murka. Mulai mendekat.

“Mari sini nak, dekat  Ayah” ucapnya.

 

-KARMELI

 

 

 

Jumat, 12 April 2013

Sepatu lebaran nanti


Semua ibu itu penyayang! Tak terkecuali. Walaupun profesi, tingkah polah, cara berpakaiannya-pun ada yang tak pantas dibilang sebagai seorang ibu tapi teteeeep ibu tak akan mau merusak kebahagiaan anaknya!

***

Ini kisah nyata saya. Sewaktu bulan puasa tahun 2011 kegiatan saya selepas pulang sekolah atau masa liburan itu berada di toko. Saat itu ibu saya puya toko sandal-sepatu dikawasan pasar Pandeglang, dan saya sering membantu ibu untuk menjaga toko. Karna memang pada saat bulan puasa apalagi malam takbiran buanyaaaak sekali pengunjung yang datang baik untuk hanya sekedar melihat-lihat atau membeli.

Pada jam setelah maghrib, ramai sekali orang yang berkunjung ke toko saya. Saya yang sedang menghabiskan jatah makan buka puasa saya tertarik untuk melihatseorang ibu yang sedang berdebat dengan anaknya tentang pilihan sandal yang sedang di pegang si anak saya tafsir umur si anak 7 atau 8 tahunan saya mendekati mereka. Dandanan ibu itu sedikit “menor”, memakai jaket berbahan jins, rambut berwarna merah yang dikuncir satu kebelakang, pakai sepatu bakiak ber-hak, dan memakai dandanan  agak berlebihan.

Setelah lama saya mendengar perdebatan ibu dan anak tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa si ibu itu tak suka dengan pilihan sandal si anak, pasalnya si anak menginginkan sandal teplek  yang mempunyai tali kebelakang.

“itu gak jaman neng, luh mau di ejek-ejek sama temen luh!” ujar si ibu. Si anak hanya diam, sepertinya dia tak tertarik dengan pilihan si ibu. Si ibu menanyakan harga sepatu yang dipilihnya, sepatu itu  sedikit ber-hak . Saya terkekeh, masak iya bu mau beliin anak seumuran itu sepatu yang beginian, batin saya.

“Dua puluh lima bu.” Ibu itu tercekat mendengar harga yang saya sebutkan lalu dia menanyakan lagi harga sepatu yang dipilih anaknya tadi “kalau yang ini?” Tanya nya sambil memperlihatkan sepatu yang dipilih anaknya tadi.

“yang itu lima puluh. Bawahannya tebel bu, ga mudah rusak. Gak licin juga”, saya menjelaskan.

Si ibu tampak mengimbang-ngimbang sepatu mana yang akan dia belikan untuk anaknya berlebaran nanti.

“hayang nu mana neng?” Tanya si ibu yang berarti mau yang mana neng. Si anak masih kekeuh sama pilihannya.

“nu ieu, Mak.” Jawab si anak yang berarti yang ini, Mak.

Si ibu mengalah dan mau membelikan sepatu yang di kehendaki sang anak, tanpa proses tawar menawar si ibu memberi uang 50ribu kepada saya. Terlihat di mimik muka si ibu ada perasaan sedikit kecewa karna dia menghendaki anaknya berlebaran nanti mengenakan sepatu berhak yang sedang banyak digandrungi oleh sebagian anak kecil.

Tapi saya sangat bangga pada si ibu, karna merelakan uangnya menghilang lima puluh ribu untuk membeli sepatu yang diinginkan si anak. Kalau saja si ibu tetap kekeuh dengan pilihannya mungkin uangnya hanya hilang dua puluh lima ribu. Dan saya kira ibu dengan berpenampilan itu akan bersikap kasar dan tak mau kalah tentang pilihan memilih sepatu. Tapi saya salah, ibu berpenampilan seperti itupun sangat sayang pada anaknya, dan tak mau merusak keiinginan sang anak.

Memang bener apa kata orang “jangan menilai orang dari covernya”.

 

 

Salam, Karmeli ^^